Kamis, 18 Agustus 2016

Pengalaman Pertama Trading di Pasar Saham

Awalnya kan aku berkutat di dunia pasar modal, adalah untuk investasi. Awalnya kan memang fokus menabung emas, tetapi sesuai prinsip klasik berinvestasi (entah siapa ya yang pertama mempopulerkan), "Don't put your eggs in on basket", jadinya aku mulai melirik intrumen investasi di pasar modal. Instrumen investasi di pasar modal sendiri bermacam-macam.

Baca selengkapnya: Jenis-jenis Investasi di Pasar Modal

Akhirnya mulai deh investasi di reksadana dan sedikit-sedikit mencicil membeli saham. Aku yang sebelumnya memang suka kurang kerjaan memperhatikan grafik-grafik harga emas atau fact sheet dari suatu produk reksadana, sekarang menjadi getol memantau harga saham. Menurutku, ini lebih menyenangkan daripada belanja online. Bikin adrenaline terpacu sambil harus ada pengendalian diri biar nggak 'kalap' belanja saham rekomendasi analis, hihi. Akhirnya setelah aku pertimbangkan lagi, kayaknya daripada sekedar menjadi investor, akan lebih baik bila aku fokus belajar menjadi trader saham. Kepalang tanggung loh, sudah belajar analisa fundamental, analisa tehnikal, gabung forum saham, dan banyak ngerecokin teman yang sudah lebih dahulu menjadi trader, rasanya kalau cuma berhenti sebagai investor, sayang banget. Walau antara hasil dan usaha nggak sebanding, soalnya aku masih main 1 lot-1 lot saham dulu. Tetapi menurutku nggak apa-apa lah, daripada tidak sama sekali.

Pengalaman pertama membeli saham

Kayaknya nggak penting banget ya cerita pengalaman pertama membeli saham? Tetapi, buat yang masih ragu bermain saham dan menganggap bermain saham itu sama dengan berjudi, nih aku kasih tahu ya, sebelum bermain saham itu, kita harus membekali diri dulu dengan ilmunya. Kalau sudah tahu ilmunya, masak iya masih sama kayak judi?

Kok bisa sih dapet untung dari saham? Kan menzolimi yang saat itu rugi kerena menjual saham lebih murah daripada harga beli?

Eh, kata siapa kayak begitu? Sebagai trader memang kita nggak selalu untung. Ada kalanya kita harus cutloss alias jual rugi, dengan tujuan agar modal tidak terus turun nilainya. Tetapi saat ada investor yang berani bayar saham kita lebih tinggi? Saat perusahaan membagikan deviden? Dari situ nilai saham kita meningkat. See? Ada yang kita zalimi dari situ? Nggak kan?

Selengkapnya: Investasi di Pasar Modal itu Riba? (coming soon)

Yah, intinya sih yakini dulu saham perusahaan yang akan kita beli. Analisa kinerja perusahaan dengan analisa fundamental dan perhatikan waktu yang tepat saat membeli saham.

Selengkapnya: Investasi di Pasar Modal Seperti Merawat Tanaman

Jadi, pengalaman pertama membeli saham itu, deg-degan! Walau cuma order saham yang 1 lotnya cuma puluhan ribu saja, tetap deg-degan! Sempat pesimis kalau beli lot kecil begini apa iya diperhatikan? Tetapi Alhamdulillah sih ternyata sering juga order matched. Nah, biar bisa order matched maka kita harus memahami situasi pasar. Kalau kolom pembelian (bid) sudah tebal lotnya, sedangkan kolom offer masih tipis lotnya, ya jangan kecewa kalau antrian kita nggak dicolek.

Pengalaman pertama menjual saham

Sensasi pertama menjual saham itu sama seperti saat membeli saham. Deg-degan. Ada perasaan takut saham yang kujual nggak laku karena harga keburu turun. Pernah juga keblinger pengen jual yang akhirnya malah pesanan ketriggered, nggak jadi terjual, tetapi sebenarnya saat itu memang masih pengen keep saham tersebut. Padahal ternyata, kalau seperti itu, nggak apa-apa sahamnya dijual saja, istilahnya mengamankan cuan. Nanti kalau harganya turun lagi, baru beli lagi. Tapi saat itu kan masih spot jantung bo. Masih keringat dingin lihat bursa yang harga sahamnya bersliweran di atas macam pasar malam, haha!

'Meriah'nya Pasar Modal di aplikasi Tradepro dari Danareksa (foto dari dmia.danareksaonline)
Kalau sedang sesi bursa (jam 9 pagi sampai jam 12 siang kemudian jam setengah 2 siang sampai jam 4 sore), angka-angka di program Tradepro ini berubah-ubah dengan kerlap kerlip antara merah dan hijau. Di awal trading, aku bingung sendiri, kok jadi kayak programmer begini ya tampilannya? (emang programer yang buat sih). Tetapi setelah diberi tahu Pak Santosa, aku jadi paham kalau nggak semua tombol ini harus diutak-atik. Selengkapnya sih pengen aku bahas di postingan Utak-atik Trade Pro dari Danareksa. Intinya sih bisa karena terbiasa. Nikmati saja belajar dan ribet-ribetnya, hehe.

Pengalaman Cuan dan Cutloss Pertama

Sebenarnya ini pengalaman 12 Agustus lalu, tetapi baru ditulis sekarang, hehe..

Habis membaca bukunya Ellen May, aku jadi tersadar kalau selain menetapkan target keuntungan, kita harus fokus menentukan target kerugian. Nggak usah takut rugi, karena kerugian itu bisa ditutup dari cuan/untung di saham lain. Kemarin itu aku cutloss saham ANTM yang sudah meringsek loss sampai 5%. Kata temanku 5% itu sudah terlalu banyak, harusnya ketika 3% harus segera di cut loss, tapi dasar kemaren itu masih cemen, takut rugi, berlarutlah rugi itu sampai 5%. Saking nggak mau rugi, saham ANTM itu tetap aku jual dengan cutloss 5%, tetapi aku juga jual saham MPPA yang sudah gained dan lagi tren naik. Untung modal masih cukup, langsung beli lagi saham MPPA. Kalau istilah temen-temen di grup WA Danareksa, ini namanya 'nyopet', karena aku jual di harga 1910 dan beli lagi di 1905. Besoknya saham MPPA naik lagi sampai sempat menyentuh 2080. Sayangnya aku berhasil jual saat harga turun menjadi 2000, sebabnya karena aku nggak pasang stop loss dari awal, jadi ketika harga menyentuh target harga kita, katakanlah 2060, tetapi sebelum antrian di 2060 habis, harga keburu turun ke 2050, ya sudah, nggak jadi laku deh sahamnya. 

Karena pengalaman loss-lossan ini, aku jadi harus bisa disiplin pasang stop loss tepat ketika membeli saham. 

2 komentar: