Sabtu, 18 Juli 2020

Menilik Usaha Laundry via Laundy Show


Tapi ini bukan reality show, tapi film garapan Upi Avianto. Berkisah tentang pria yang biasa dipanggil Kokoh (diperankan Boy William) yang giat bekerja tapi karir begitu-begitu saja. Apalagi di kantor ada rekannya yang curang dan penjilat, tambah deh karir si Kokoh macet. Akhirnya dengan keadaan seperti itu, ditambah hobinya nonton acara motivasi, sampailah ia pada sebuah keputusan, RESIGN. "Saatnya menjadi bos bagi diri sendiri", gitu kata sang motivator.

Terus usaha apa dong? Yang ada di pikiran Kokoh adalah usaha laundry, karena ibunya berprofesi sebagai buruh cuci. Hmm, sampai disini aku heran kenapa ibunya cuma mentok jadi buruh cuci ya? Kenapa nggak dari dulu bikin laundrynya ya? Bukannya bermaksud skeptis sama buruh cuci, tapi digambarkan Kokoh ini cukup berada, kalo bisa punya rumah bagus, masak ngerjain cuciannya masih pake tangan? *ah penonton rese nih aku..

Tapi suka sih scene si ibu ngasih tips nyuci ke si Kokoh. Terus di sepanjang film juga si Kokoh selalu ngasih saran ke orang lain yang bajunya bernoda. Jadi inget hack ala five minutes craft gitu deh. Hihi

Nah, dari film ini kita bisa ambil pelajaran bahwa:

Untuk memulai usaha dimulai dari hal yang terdekat dengan kita. Bisa karena kita ahli di bidang tersebut atau dari kebutuhan sekitar kita. 

Kalau si Kokoh kan karena biasa membantu ibunya mencuci baju, jadi dia pede bakal expert di bidang ini.

Setelah menentukan bidang usaha, langkah selanjutnya yang diambil Kokoh adalah dengan mencari modal, dengan...

Menurunkan standar hidup

Karena sudah resign, mau nggak mau dia harus menurunkan standar hidupnya. Kalau yang biasanya kemana-mana naik mobil dan makan di restoran, setelah resign dia lalu menjual mobilnya dan ganti dengan motor biasa, terus makannya di warteg (btw dia sih masih tinggal sama ibunya, bisa lebih sering makan di rumah harusnya)

Menjual aset

Untungnya sih Kokoh punya aset berupa mobil ya. Jadi asetnya ini yang dijual untuk modal usaha. Kalau modelnya kayak Kokoh gini, jangan pinjem uang di bank dulu, karena usahanya masih trial and error dan Kokoh nggak punya penghasilan tetap.

Membeli modal kerja bekas yang berkualitas

Karena modal tergolong minim, untuk peralatan usaha bisa memakai barang bekas. Memang harus jeli dan detail kalau mau membeli barang bekas. Kalau beruntung, nggak jarang barang bekas justru kualitas materialnya lebih bagus dibanding barang baru. Untuk bisnis laundry Kokoh dia membeli beberapa mesin cuci bukaan depan bekas untuk usahanya. Nggak dijelasin dia bisa dapat sekaligus beberapa mesin cuci bekas berkualitas begitu. (Mereknya Electrolux cuy, dah lagend banget buat usaha laundry merek ini).

Tempat usaha harus strategis

Walau modal pas-pasan, untuk memulai usaha harus memilih lokasi yang strategis. Kokoh menyewa ruko yang cukup strategis  menjangkau pelanggan. Semakin banyak pelanggan maka cuannya akan semakin banyak kan ya..mantaps.

Merekrut karyawan sesuai jobdesknya

Sebagai mantan anak buah, Kokoh sadar pentingnya merekrut anak buah yang tepat. Asyiknya si Kokoh, dia nggak mensyaratkan karyawannya kudu yang terhebat. Dia masih mau mempekerjakan ibu-ibu rabun dan mbak-mbak jutek. Yang penting mereka punya atittude yang baik dan mau belajar.

Percaya rezeki tak tertukar

Konflik di film ini adalah ketika Kokoh mendapatkan saingan sesama pengusaha laundry. Sebut saja Cici. Klise banget sih konfliknya. Mereka saling perang harga, rebutan costumer. Sampai akhirnya sama-sama sadar bahwa mereka seharusnya kerjasama. Rezeki itu gak mungkin tertukar. Ada kalanya si Cici kebanjiran order, dan Kokoh yang membantu.

Ternyata, motivator sesungguhnya itu adalah orang terdekat kita..

Di awal film, terlihat kokoh sangat mengidolakan motivator di TV. Sampai akhirnya Kokoh sadar, motivator sesungguhnya adalah ibunya. Yang menjadi inspirasi hidupnya. Apalagi kemudian Kokoh melihat motivator idolanya ternyata jualan asongan. Nggak tau bangkrut, atau memang pekerjaan utamanya itu. Yang jelas nggak usah percaya casingnya orang yang gak kenal secara pribadi deh. Hihi!

Sabtu, 11 Juli 2020

Cerita Compound Interest dari Film Orang Kaya Baru

Ada anekdot yang mengatakan, "Orang kaya bakal makin kaya dan orang miskin bakal tetap miskin."

Sebenarnya ini perkara mental aja sih. Orang kaya bisa makin kaya karena mereka bisa menunda kesenangan. Setiap ada uang lebih, mereka akan investasikan. Instrumen investasinya juga mereka pilih dengan penuh pertimbangan. Intinya mereka bisa kaya karena bisa mengalahkan 'hawa nafsu'. Jadi, buat yang merasa hidupnya miskin, nggak perlu meratapi nasib, kita bisa kok merubah nasib itu dengan meningkatkan penghasilan, mengefisienkan pengeluaran, dan mengalokasikan uang yang disisihkan untuk investasi. 



Cerita di film Orang Kaya Baru menggambarkan apa yang disebut compound interest, dimana hasil keuntungan investasi kemudian diinvesatasikan kembali sehingga hasilnya menjadi sangat banyak! Memang agak nggak masuk di akal sih, 'crazy rich' begitu tapi berpura-pura hidup melarat. Kasian istrinya tuh, sampai ngumpat-ngumpat ketika tahu kalo suaminya selama ini punya uang banyak banget di bank dan selama hidup nggak ngasih tau.

Kekayaan harus diimbangi dengan mental kaya

Nah, mental keluarga ini diuji dengan kekayaan mendadak ini. Sempet sebel mereka jadi 'impulsive buying' gitu. Ya ibaratnya orang disuruh puasa tapi nggak tau essensinya berpuasa, pas buka ya jadi kalap. Disini mereka masih bermental miskin, pokoknya beli apapun, nggak mikir deh investasi. Tapi bagusnya sih mereka mengedepankan pendidikan, jadi uang warisan sebagian mereka pakai buat fasilitas pendidikan yang lebih baik.

Agar kaya dan kekayaannya bertahan, mental kaya harus ditanamkan. Selalu membeli sesuatu dengan pertimbangan matang, termasuk pilihan investasi untuk menggandakan kekayaan. Tahan diri untuk menikmati hasil investasi dan selalu investasikan kembali hasil investasi yang didapatkan.

Saat kaya, semua mendekat, kuatkan iman!

Saat kaya, semua akan mendekat, kita nggak tau mana yang benar-benar sahabat, mana yang musuh dalam selimut. Orang miskin mah gak bakal dilirik sama tipe benalu begini. Jadi sebenarnya, ketika kita nggak kaya (atau nggak tampak kaya), bakal lebih mudah menentukan mana yang layak dijadikan sahabat. Konflik ini kentara terjadi pada tokoh utama, yaitu Tika. Saat teman-teman yang dulu membully dia mendekat, benar saja ternyata mereka teman yang buruk. Tika dipaksa menegak obat yang ternyata narkoba, untung Tika segera ke kamar mandi dan melepeh obat tersebut. Dari situ Tika sadar bahwa nggak perlu penasaran sama 'kehidupan' orang kaya. Walaupun sudah berlimpah harta, bukan berarti kita lalu menjadi orang lain kan? 

Sedekahnya jangan lupa

Kekayaan untungnya nggak membuat mereka jadi serakah. Si ibu tetep ingat sedekah. Walau ada bau-bau pencitraan ya. Tapi soal niat sih nggak perlu diperbincangkan ya,  karena perlu diingat bahwa ada jatah kaum dhuafa di harta kita. Itu salah satu yang bikin orang kaya hartanya awet, karena didoain orang-orang kan ya. 

Compound interest gak cuma tentang bunga bank!

Walau terjemahannya 'bunga majemuk', tetapi pemahaman compound interest bukan cuma soal bunga bank. Karena setiap kegiatan reinvestasi yang berpeluang mendapatkan hasil berlipat dapat dikategorikan compond interest, istilah aja mungkin beda. Misalkan saja membeli seekor sapi terus menjualnya. Selisih harga jual ini kemudian diinvestasikan kembali. Selisih harga jual ini lama-lama jadi seekor sapi lagi. Nah gitu deh kira-kira.

Cari harta itu mudah (karena memang ada jatah rezeki masing-masing). Tetapi mempertahankan kekayaan tanpa menjadi orang lain dan pencitraan, kadang nggak semua bisa. Jadi syukuri saja kalo sekarang masih miskin, yang penting tetap berpikir kaya, konsisten menyisihkan dana sambil terus ditambah seiring waktu. Nggak usah urusin omongan orang. Dibilang pelit biarin, hihi. Niscaya kita akan menikmatinya di hari nanti dan memberi bekal yang cukup untuk keluarga *optimis                       

Minggu, 21 Juni 2020

Investment Gathering Prudential x Eastspring Indonesia

Siapa yang selama pandemi Covid-19 ini makin getol investasi? Me! Bukan apa-apa, karena pandemi ini jadi makin sadar pentingnya investasi di instrumen yang aman dengan return yang lumayan. Reksadana Pasar Uang. Ini direkomendasikan oleh banyak financial planner sebagai salah satu pilihan dana darurat. Alasannya adalah karena kemudahan untuk dicairkan (maksimal 3 hari kerja) dan returnnya diatas deposito. Nah, pengetahuan soal investasi ini semakin bertambah setelah mengikuti Prudential Indonesia - Investment Highlight and Market Outlook 2020: Life with COVID-19.

Dalam acara ini, ada tiga pembicara  dari Prudential Indonesia dan Eastspring Investments Indonesia. Baru kutahu kalau ternyata PT Eastspring Investments Indonesia adalah anak perusahaan Prudential Indonesia yang difokuskan untuk mengelola dana investasi yang responsible bagi nasabah Prudential maupun umum.
Pemateri pertama adalah Ibu Novi Imelda selaku Chief Investment Officer Prudential. Beliau menunjukkan fact sheet mengenai kinerja investasi Prudential bersama Eastspring Investments Indonesia. Ternyata tahun 2020 yang katanya investasi lagi parah-parahnya, beberapa produk investasi PRUlink menunjukkan hasil positif. Produk tersebut antara lain PRUlink Syariah Fixed Income Fund, PRUlink Dollar Fixed Income Fund, dan PRUlink Syariah ASPAC Equity Fund (SAPF), dengan kinerja sampai bulan Mei ini  sebesar 8,48%, 7,82%, dan 9,34%. Bu Novi mengatakan bahwa saat ini adalah saatnya untuk melakukan rebalancing dan diversifikasi investasi sesuai profil resiko.
Investment Gathering dipandu Prabu Revolusi
Baca: 8 Langkah Investasi di Pasar Modal

Materi berikutnya dari Pak Alan Darmawan selaku CEO Eastspring Investment Indonesia. Ternyata Eastspring Investment Indonesia memiliki total dana kelolaan terbesar di Indonesia yaitu sebesar 92.08 triliun. Perusahaan investasi ini telah mendapatkan penghargaan sebagai Top Manajer Investasi 2017 Kategori Reksadana Pendapatan Tetap, dan Best Mutual Fund 2018 dan 2019 untuk kategori Equity Fund, serta Best Unitlik 2019 dan 2020. Pak Alan juga menjelaskan cara untuk mengenal profil resiko sebelum berinvestasi. Cara mudah mendeteksi profil resiko adalah dengan mengetahui daya tahan kita terhadap kerugian. Karena sesuai prinsip ekonomi, semakin besar potensi keuntungan, maka makin besar pula kemungkinan kerugian. Makanya jangka waktu investasi juga mempengaruhi 'daya tahan' itu. Kalau tujuannya investasi jangka panjang, tentu daya tahan terhadap kerugian akan lebih tinggi.

Materi selanjutnya tentang Market Outlook dari Pak Ari Pitojo, Chief Investment Officer Eastpring Investment Indonesia. Tahun 2020 ini diprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi negatif akibat pandemi Covid-19. Namun demikian, selalu ada celah dalam setiap musibah. Beliau menjelaskan mengenai strategi portofolio dengan cara:
1. Berlindung pada kas lebih besar
2. Overweight/condong pada sektor defensif seperti sektor konsumsi dan teknologi informasi
3. Overweight/condong pada obligasi pemerintah

Sebagai investor pemula, bagaimana memulai investasi dan menghindari kesalahan yang umum dilakukan investor pemula?

Kesalahan investor pemula unumnya adalah "buy high sell low", atau membeli produk investasi saat harga tinggi dan menjual saat harga rendah. Kenapa bisa begitu?

1. Investasi tanpa ilmu (ikut-ikutan)
Investasi di pasar modal itu bukanlah judi, semua ada ilmunya. Misalkan saja, pada produk reksadana, antara reksadana pasar uang dan reksadana saham, walaupun sama-sama reksadana tetapi karakteristiknya berbeda. Makanya perlu belajar dahulu sebelum memulai investasi.

Baca: Jenis-jenis Investasi di Pasar Modal

2. Investasi tanpa mempertimbangkan profil resiko dan tujuan investasi
Investasi itu nggak semata cuan tapi juga harus aman. Penting untuk mendiversifikasi investasi sesuai dengan kebutuhan. Misalkan untuk dana darurat, tentu lebih baik dialokasikan di reksadana pasar uang yang nilainya tidak pernah menurun. Tetapi untuk hari tua, bisa dialokasikan ke reksadana saham karena tujuannya untuk jangka panjang. Nah, yang bikin pada buru-buru mencairkan investasi salah satunya karena tidak ada pertimbangan jangka waktu seperti ini. Begitu rugi langsung panik.

3. Investasi di tempat yang kurang tepat
Harusnya, kalau berinvestasi di tempat yang terpercaya, seharusnya nggak perlu khawatir saat nilai turun. Nanti pasti kembali ke nilai semula, bahkan lebih tinggi. Optimis perekonomian Indonesia masih akan terus bertumbuh kan? Tapi, lain ceritanya kalau berinvestasi tanpa mencari tahu kredibilitas lembaga investasinya. Oleh karena itu, pilihlah lembaga investasi yang diawasi OJK. Pelajari cara menganalisa suatu lembaga investasi. Pilih yang memiliki historis bertumbuh secara wajar. Kalau nggak wajar kudu hati-hati juga soalnya.

4. Tidak memperhitungkan kemampuan
Sebaiknya, posisi asset yang kita miliki dievaluasi terlebih dahulu, untuk melihat kemampuan berinvestasi kita. Oleh karena itu, penting bagi kita membuat balance sheet, yang terdiri dari inventarisasi aset sampai income statement pribadi. Dimulai dengan rutin mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan serta membuat list asset yang dimiliki. Oh ya, kalau bingung bagaimana membuat balance sheet, salah satu blogger finansial yang ngehits ada template excelnya. Cuss ke danirachmat.com deh, terus klik ikon ini:


Porsi investasi yang tepat itu berapa sih?
Porsi investasi ideal itu kira-kira 30%, sesuai presentase maksimum saat mengambil loan. Misal bisa lebih dari itu jelas lebih baik.

Demikian sekelumit materi dari Investment gathering Prudential Indonesia. Semoga kita bisa #WeDOWealth ya.


Senin, 04 Mei 2020

Melek Finansial Hindari Sial


Berawal dari postingan Instagram soal #CeritaAturDuit , tiba-tiba dijapri sama lifestyle journalist idola, Mbak Ecka Pramitha. Katanya dia mau seseruan IG Live dan tema keuangan kayaknya lagi asyik banget dibahas sekarang. Hmm, sebenarnya aku ragu mau sharing, secara siapa sih aku? Bukan lulusan ekonomi, tapi memang punya passion soal duit dan investasi (sapa sih yang gak berbinar ngomongin duit, ya kan).

Singkat cerita, diputuskanlah mengambil judul 'Melek Finansial Hindari Sial', karena soal finansial bisa bikin hidup jadi sial (merana) kalau gak diatur dengan baik. Semua kudu melek finansial, apalagi emak-emak yang konon katanya menteri perekonomian keluarga (selain menteri pendidikan dan kesehatan juga, jadi emak memang kudu all in, hihi).


Keuangan itu harus direncanakan mau berapapun penghasilan kita. Di awal gajian kita harus membagi-bagi penghasilan sesuai dengan posnya masing-masing. Ada bermacam-macam persentase yang bisa digunakan, tapi yang paling aku suka sih metode 40:30:20:10, kan gampang tuh ngingetnya. Jadi 40% biaya hidup. 30% hutang (usahakan hutang produktif) 20% tabungan 10% sedekah. Biaya hidup dan hutang, semakin kecil semakin bagus, sedangkan tabungan dan sedekah, semakin besar semakin baik. Jujur sih aku nulis gini juga belum 100% sesuai, karena penghasilan terbatas, bisa hidup hanya dari 40% penghasilan cukup berat, makanya aku gak berani ambil hutang, karena pos tabungan (dana darurat dan investasi) masih butuh ditambah.

Nah menilik judul 'Melek Finansial Hindari Sial' itu maksudnya supaya kita lebih cermat dan kritis memilih produk keuangan. Kemalasan dalam membaca 'term and condition' pada produk keuangan dapat membuat kita salah memilih produk keuangan (pengalaman pribadi sih ini). Jadi, harus melek kayak gimana sih?

1. Wah, bisa nabung nih, investasi aahh

Dengan gaya hidup sederhana diharapkan kita dapat menyisihkan uang untuk ditabung. Guna tabungan ini tentu saja beraneka ragam. Bisa sebagai saving di kala darurat (dana darurat), dapat pula menjadi kendaraan untuk mendapatkan passive income. Namun, tetap teliti memilih produk yang akan digunakan sebagai tabungan ini. Jangan tergiur dengan  imbal hasil yang tinggi dan ada embel-embel syariah, terus langsung masukin dana kesana tanpa diteliti lagi. Selalu kritis menanyakan prospektusnya, misal itu produk investasi, pastikan izinnya juga legal. Ingat selalu bahwa imbal hasil tinggi berarti resikonya tinggi pula. Selalu bikin target yang jelas dalam menabung, jadi nggak 'ngawang2'.

2. Wah, ada peluang bisnis, tapi modal nggak ada, ngutang ah..

Hutang memang nggak dilarang, tapi dalam berhutang memang harus bijak. Bila kebutuhan masih bisa ditunda lebih baik dikumpulkan dulu dananya dengan menabung, tetapi hutang yang sifatnya produktif seperti KPR atau modal usaha boleh dilakukan, karena bila menabung biasa khawatir tidak dapat 'momen'nya lagi.

Nah, dalam berhutang kita harus jujur soal keuangan pribadi. Nggak perlulah bohong soal gaji, karena yang repot bayar nanti kita sendiri. Teliti klausul-klausul pada produk pinjaman apalagi sekarang marak pinjaman online, jangan karena kemudahan mendapatkan dana lalu kita terlena dan akhirnya kesulitan membayar bunganya. Ingat, jangan sampai tebawa nafsu karena uang akan mengendalikanmu!

3. Aku sudah berhemat berbulan-bulan, saatnya reward diri sendiri!

Menabung sewajarnya saja, namun jadikan habit rutin. Apabila mentarget terlalu banyak, ujung-ujungnya kita akan merasa tersiksa. Lalu sampai pada masa "Ah aku sudah terus berhemat, sekarang beli-beli buat reward lah!"-->terus beli ini itu-->terus tabungan ludes. Jangan sampai kayak gitu yaaa..fokus sama target keuangan gaes. Mending dikit-dikit tapi rutin, daripada langsung banyak tapi habis itu menyerah.

Jadi, tetap cermat mengatur keuangan dan terus upgrade ilmu seputar duit, karena tanpa ilmu dan manajemen yang baik, duit bakalan mengatur kita!

Kamis, 30 April 2020

Investasi Selama Pandemi Covid-19

Being boss with investing

Pandemi Covid-19 memang bikin banyak kebiasaan kita harus berubah. Yang paling kerasa soal harus di rumah saja. Seluruh kegiatan belajar dan kerja dianjurkan dilakukan di rumah saja. Bukan hal yang mudah, apalagi kita harus di rumah saja dalam waktu yang tidak sebentar. Rasa bosan pasti menyertai. Belum lagi banyak yang penghasilannya berkurang karena pandemi ini. Tapi, semua pasti ada hikmahnya, dengan hanya di rumah saja, kita bisa berinvestasi pada banyak hal seperti di bawah ini:

Investasi kedekatan bersama keluarga

Tidak ada yang mengira bila dalam 2 bulan terakhir ini semua kegiatan harus dilakukan di rumah. Di satu sisi ini bagus untuk menambah bonding antar anggota keluarga. Memang beda ceritanya kalo yang LDM atau yang saat ini berprofesi sebagai nakes, tapi adanya pandemi ini akan mendekatkan kita pada keluarga, dan meyakinkan kita bahwa tempat teraman di dunia ini adalah pada keluarga.

Investasi waktu untuk ibadah

Pandemi ini pastinya akan mendekatkan kita pada Sang Pencipta. Adanya virus super kecil yang tak kasat mata namun membahayakan akan membuat kita tersadar bahwa semua kekuatan ada padaNya. Karena kuasaNya seuatu yang sangat kecil bisa menjadi bahaya yang sangat besar bagi kehidupan kita. Melalui pandemi ini juga, bumi menjadi berkurang polusinya. Apalagi saat ini sedang Bulan Ramadan, terasa sekali syahdunya ibadah puasa tahun ini.

Investasi ilmu lewat webinar

Saat ini siapapun akan mengandalkan online. Kegiatan pembelajaran mau tidak mau harus dilakukan secara online. Tapi, keterpaksaan ini membuat kita menjadi terbiasa belajar secara online. Pembelajaran tidak lagi terbatas jarak, yang diperlukan adalah koneksi internet. Lalu, semua peluang belajar bisa dimanfaatkan!

Investasi skill

Ketika bekerja di kantor, waktu menjadi terbatas. Dengan bekerja di rumah, akan ada waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk mengasah skill, seperti skill memasak, menjahit, atau trading saham? Hehe..
Terkadang memang skill itu terasah bukan karena keinginan tetapi semata karena kepepet kebutuhan. Misalkan biasa mengandalkan masakan warung, karena pandemi ini lalu warung makan tutup, ya mau nggak mau harus bisa masak kan? Bahan masakan susah didapat, jadi semangat buat berkebun.

Dan, pandemi ini mengajarkan kita untuk kembali menjaga lingkungkan, investasi kepada alam supaya lebih bersih dan asri.

Senin, 06 Januari 2020

Beberapa Cara Mencicil Hunian Impian

Rumah impian

Diantara kebutuhan primer manusia, satu yang paling sulit dimiliki adalah papan. Okelah kita bisa ngekos, ngontrak, atau numpang dengan saudara. Tapi pasti pingin dong punya rumah sendiri? Sayangnya punya rumah impian tidak semudah itu. Selain katanya rumah itu ibarat jodoh, yang hanya bisa didapatkan di saat dan lokasi yang tepat, dana untuk memiliki rumah impian juga tidak sedikit. Tapi, nggak ada yang nggak mungkin kalau kita berusaha, kan? Termasuk memiliki rumah impian, bisa diwujudkan dengan beberapa cara, seperti:

1. Menyisihkan tabungan di rekening

Ini cara paling oldies tapi manjur bila dilakukan secara sabar dan konsisten. Nggak perlu takut Senin harga naik, kalau sudah jodohnya, pasti dapat rumahnya. Ya memang sih, nominal yang ditabung harus cukup besar apabila ingin jangka waktunya sebentar. Yah, cara ini memang cocok buat mereka yang bisa disiplin menyisihkan tabungan tanpa tergoda untuk menggunakan ke kebutuhan lain.

2. Menyisihkan tabungan dalam bentuk reksadana

Selain disisihkan atau diendapkan saja di tabungan. Cara mencicil hunian impian bisa dengan menyetorkannya ke instrumen investasi Reksadana. Kenapa Reksadana? Karena Reksadana relatif mudah dicairkan dan biayanya relatif kecil. Pilih reksadana untuk jangka pendek seperti Reksadana Pasar Uang (RDPU), hal ini untuk menjamin keamanan dari dana yang disetorkan. Kita nggak pernah tau to kapan ketemu jodoh rumahnya. Kalau pas harus mencairkan Reksadana terus nilainya turun, kan nyesek juga pastinya, huhu. Kalau RDPU relatif stabil nilainya, mau dicairkan kapan saja juga nggak masalah.

3. Membuka kredit KPR dan sejenisnya di bank.

Ini jalan terakhir kalau memang menabung belum memenuhi. Biasanya sih combine ya, sebagian dicover tabungan, sebagian lagi dipenuhi dengan kredit di bank. Ada dua jenis produk yang bisa dipilih, yaitu kredit KPR dan multiguna. Kredit KPR cocok digunakan untuk kredit perumahan, karena bila digunakan untuk pembelian rumah bekas, administrasinya bisa dibilang agak ribet untuk penjual. Untuk kepemilikan tanah juga harus segera dibangun rumah dalam waktu 2 tahun (kalo duitnya belum ngumpul, harus kredit lagi dong, hihi). Kredit multiguna bisa dipilih untuk pembelian tanah cash. Karena keperluan dokumen dan peninjauannya relatif lebih mudah dibanding KPR. Tapi memang harus ada sertifikat tanah atau BPKB kendaraan yang siap digadaikan. Yang PNS bisa sih gadaikan SK-nya. Banyak cara mendapatkan kredit bank, tapi tetap harus bijak, agar tidak kewalahan dalam membayar cicilannya.

Semoga segera memiliki hunian impian kita ^_^ (menyemangati diri sendiri)

Jumat, 08 November 2019

Atur keuangan minim biaya berkat Flip

Ini bukan sponsored post yha. Habis blog ini dah lama banget nggak diisi. Si empunya lagi mumet bikin tulisan berpotensi investasi yaitu paper penelitian, heu heu. Tapi jujur ngubek-ngubek soal keuangan jadi refreshing sendiri saat stuck garap paper (yang terus kebablasan mantengin aplikasi melulu).

Jadi, banyak yang bikin tulisan soal mengatur keuangan kan. Banyak versinya, tapi kalau mau ditarik benang merahnya, intinya adalah, tentukan tujuan keuangan kita. Nah, dari tujuan-tujuan itu baru deh ditentukan mau siapin berapa pos? Masing-masing pos butuh berapa? Tiap orang bisa beda. Tapi yang jelas pos konsumsi dan investasi kudu dibedain. Makanya soal rekening tabungan kudu dibedain. Biar jelas pembagiannya.

Idealnya berapa tabungan?

Setidaknya sih dua tabungan. Satu untuk kebutuhan konsumsi, satu lagi untuk produktif/ investasi. Tapi nggak jarang sih kita punya tabungan lebih dari itu. Alasan klasik dulu sih, biar transferan nggak kena biaya admin. Terus kalo dulu kan transfer antar bank bisa berhari-hari baru sampai, merepotkan lah! Kalau sekarang sih terbantu banget dengan aplikasi FLIP. Dengan aplikasi ini aku bisa transfer antar bank tanpa biaya dan gak perlu nunggu berhari-hari. Kalau pas nggak antri banyak, dalam waktu 5 menit uang akan terkirim. Nah, aplikasi ini juga yang penting banget aku pakai buat transfer antar rekeningku. Jadi, gaji kantor kan masuk ke rekening BRI, tapi karena mobile banking BRI kurang nyaman (masih kena biaya 250 dan limit cuma sejuta), akhirnya semua kebutuhan pembayaran dan belanja online aku alihkan ke BCA yang memang mobile bankingnya bebas biaya dengan limit 5 juta kalau nggak salah. Nah, untuk memindahkan 'jatah' belanja ke rekening BCA, aku pasti pakai FLIP. Jadi bisa mengurangi pengeluaran yang berkaitan dengan biaya administrasi bank.

Selain rekening BCA untuk belanja, aku juga punya RDN BCA karena punya akun Indopremier. Selain itu, ada juga RDN Mandiri karena aku punya akun sekuritas Danareksa. Nah, buat mobilitas pertransferan ini, aku percayakan pada Flip juga. Terhitung aku sudah hemat tiga ratus ribu rupiah lebih karena pakai flip. Duit segitu bisa buat beli reksadana lagi, hihi. Nah asyiknya RDN, rekening jenis ini nggak kena biaya admin, bahkan uang kita bisa bertambah dengan bagi hasil. Memang returnya nggak banyak, tapi nyaris tidak beresiko. Bisa pilih RDPU alias Reksadana Pasar Uang sebagai komponen dana darurat.

Jadi begitulah. Investasi bisa dimulai dari hal kecil, seperti meminimalkan biaya administrasi bank.